Kamis, 22 Januari 2015

Mengenal Sosok Mush’ab bin Umair, Teladan Bagi Para Pemuda Islam

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.
Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ
“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”
Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.
Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.
Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.
Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.
Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.
Menyambut Hidayah Islam
Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsahradhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.
Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.
Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.
Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.
Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.
Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).
Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).
Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).
Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.
Peranan Mush’ab Dalam Islam
Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.
Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.
Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umairradhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.
Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”
Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.
Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).
Wafatnya
Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata:
Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab membaca ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).
Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.
Setelah perang usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).
Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.
Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”
Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”
Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.
Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair
Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin Aufradhiyallahu ‘anhu yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair. Ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.
Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).
Penutup
Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah.
Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamlakannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.
Sumber:
al-Jabiri, Adnan bin Sulaiman. 2014. Shirah ash-Shahabi al-Jali: Mush’ab bin Umair. Jeddah: Dar al-Waraq al-Tsaqafah
Mubarakfury, Shafiyurrahman. 2007. ar-Rahiq al-Makhtum. Qatar: Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu-un al-Islamiyah

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Senin, 19 Januari 2015

Sujud Syukur Ku atas Karunia Mu ya Allah :-)

Assalamu'alaikum Wr. Wb

kali ini saya menyempatkan diri untuk menuliskan catatan tentang keseharian yang aku alami beberapa hari ini. Seminggu yang lalu tepatnya di hari jumat, 09 januari 2015 itu adalah awal pertama aku sakit. dan Pada hari sabtunya aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya  bisa terbaring di tempat tidur dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sedih sebab kedua orangtuaku tidak bisa datang untuk menjenguk ku. Perasaan ku saat itu sedih dan kecewa. Tapi aku harus tetap berpikir positif, biar gimanapun juga meraka itu orangtuaku. Orang yang sudah melahirkan ku dan merawat ku di dunia ini hingga aku dewasa seperti ini.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari obat sendiri dan dibantu dengan temanku untuk membawakannya serta saat itu aku terus berusaha untuk sembuh apapun caranya. Dan akhirnya setelah satu minggu lebih aku berusaha dan slalu berdo'a, akhirnya aku pun bisa sembuh juga. Terima kasih ya Allah.
Dan selasa, 20 januari 2015 Ini adalah hari pertama aku masuk kuliah pasca aku sembuh dari sakit yang memakan waktu lebih dari 1 minggu lamanya. Aku sangat bersyukur kepada Allah Swt yang sudah memberikan kesembuhan untuk ku. Terima kasih juga untuk teman-teman aku yang sudah memberikan semangat dan dorongan agar aku tetap semangat untuk melewati masa-masa sulit ku. Terutama buat mbaq iranya makasih untuk obat-obatan, semangatnya dan rotinya juga :-) . Buat wak atik dan kak aira, makasih udah mau besuk aku dan manggilkan aku ibu bidan untuk menyuntik dan meberikan pengobatan buat aku supaya aku bisa cepet sembuh. Buat kak siska dan atin makasih udah mau bantu aku untuk makan, minum dan membantu hal-hal yang tak mungkin aku bisa lakukan sewaktu sakit. Untuk orangtua ku, makasih untuk do'a nya. karena doa'a kalian aku bisa sembuh. meski disaat itu aku kecewa dan sedih karena kalian tidak biasa datang menjenguk aku, tapi aku yakin kalian adalah orangtua yang paling baik yang pernah aku kenal dan tak akan ada yang bisa menggantikan kalian untuk menjadi kedua orangtua ku. Aku ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua.
Terima kasih yang tak terhingga untuk kalian semua yaitu, orangtua, keluarga, teman, tetangga, ibu angkat dan semua-semua yang mendoa'akan aku supaya lekas sembuh.
 Aku mendapatkan pelajaran dan hikmah dari kejadian ini, aku di ajarkan untuk lebih bersabar, tawadu' dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah Swt kepada ku. Sakit itu bukan untuk mengeluh, putusasa dan menyalahkan Allah Swt atas apa yang menimpa kepada kita. Tapi bagaimana kita menyikapi hal tersebut dengan hal-hal yang positif. Tuhan itu sayang sama saya, sehingga Dia sengaja memberikan saya ujian lewat penyakit yang saya derita.
Tapi, saat sakit itu saya sempat mengeluh dan putus asa. hingga yang ada di pikiran saya itu hanyalah hidup 30% dan mati 60% sedangkan yang lainnya itu entah kemana. Aku sempat berpikir kenapa penyakit ku tidak kunjung sembuh padahal sudah berbagai cara aku lakukan untuk kesembuhan saya ini. Dan sempat terlintas, lebih baik aku mengakhiri hidup ku ini dari pada aku harus terus menerus merasakan sakit yang tidak terkira. Hingga aku tersadar dalam lamunan ku, terlintas untuk semangat sembuh dan aku juga ingat akan hukuman yang aku terima nantinya jika aku mati tidak atas kehendak Dia. Nauzdubillahiminzaliq,,, Sungguh azab dan kepedihan lah yang akan aku terima nanti di akhirat. DAn aku akan tinggal di neraka selamanya. . . 
Tapi sekarang aku sadar, Aku telah diberikan petunjuk Nya untuk berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Baik mulai dari solat fardu dan sunahnya, memperbanyak membaca al-Quran dan hadist-hadistnya, memperbanyak zdikir dan sholawat dan bersedakoh, perbaiki akhlak dan akidah ku. mulai dari segi berbicara, bertingkah laku dan bertutur sapa serta menajga kebersihan diri dan lingkungan untuk hidup yang lebih baik lagi dan bisa berguna bagi orang banyak nantinya.
Dan saya akan memulainya dari solat dulu, sebab saya pernah mendengar suatu hadist yang berbunyi " Apabila suatu umat itu amal ibadah sholatnya baik, maka amalan yang lain juga akan baik". Karena solat itu juga merupakan tiang agama. Semoga Allah slalu menjaga dan melindungiku serta selalu membimbingku untuk kejalan yang di RidhoiNya.
Terima kasih




Selasa, 06 Januari 2015

Inilah Kisah Cinta Ku

Perkenalan kami berawal dari abang sepupuku. yang mana abang sepupuku berteman dengannya dan satu Fakultas juga. Saat itu aku meminta abangku untuk carikan aku pacar dan aku di kenalin deh ama dia via Handphone. Perkenalan kami itu awalnya hanya datar-datar saja ndak ada yang istimewah karena sikap nya yang cuek.

Singkat crita aja yah...
 
Hubungan pertemanan kami udah ampek 1 tahun tapi tidak ada juga tanda-tanda dia untuk nembak aku. cuma harapan aja yang slalu terlihat. jadinya sebel juga kan...!!!
Nah, pada akhirnya aku update status di facebook dimana aku buat status yang bersifat sindiran yaitu brenti untuk mengharapkan orang yang awaq cintai tapi ndak pernah peka ama perasaan aku. 
Dari situlah akhirnya kami pun bisa jadian. 

Saat itu yang aku rasain seneng, kecewa  dan antara percaya tidak percaya,,,
Tapi seiring berjalannya waktu semua menjadi baik-baik saja dan kami pun bahagia mesti kami menjalani hubungan ini dengan jarak jauh. Karena kami punya komitmen dan saling percaya.

Tanggal 28 Agustus 2013 itulah First Anniversary years kami. Dalam satu tahun itu hubungan kami baik-baik saja. Dia juga sudah pernah maen-maen kerumah aku dan bertemu dengan kedua orangtua ku. Dia itu anaknya Sopan dan Baik juga, Orangtua ku senang dengan tingkah laku dan sikap dia. Begitu juga dengan keluarga aku, mereka juga menyukai nya. Tapi slalu ada pesan untuk aku. Jangan sampai mengganggu kuliah aku. Dan aku pun slalu mengingat pesan itu. :-)

Tapi setelah hubungan kami sudah 2 tahun lebih, akhirnya kami putus. Rasanya itu bagaikan mimpi jatuh dari langit saat aku terbang. Kami putus karena masalah sepele sih. Hanya karena rasa "CEMBURU". HAH ? MASAK iya cuma GARA_GARA CEMBURU ? 
Kedengaran nya sih ndak wajar. tapi memang seperti itulah. terkadang yang sepele itu bisa menghancurkannnya.

Cemburu nya dia itu sih menurut aku tak wajar, emang aku salah yah kalau sekedar bilang "iya makasih" atau pun senyum "hehehehe" di facebook dengan cowok. Lagian kan aku ndak pernah bermaksud untuk membuat dia cemburu ataupun mencoba mendekati laki-laki lain.

Tapi dia nya sudah tidak bisa memaafkan aku. Dan ego dia lebih tinggi dari pada rasa sayang dia ke aku. Semua nya sudah berubah dia bukan seperti yang aku kenal dulu. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih Indah dibalik semua ini. Dan jika memang nanti kami Jodoh pasti akan dipertemukan kembali. :-)

Saat ini aku hanya meminta kepada Tuhan untuk menjagaku dan menjadikan aku wanita yang kuat. Kuat untuk menjalani hidup ini. Mungkin sendiri itu lebih baik dan sekarang mulai fokus untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Semua kegagalan-kegagalan yang pernah aku alami itu menjadikan aku untuk tetap semangat dan terus berjuang untuk menjadi wanita yang Kuat dan Berhasil nanti.

Selamat tinggal Masa Lalu Ku.
Selamat Datang Masa Depan, Aku akan meraih mimpi-mimpi ku.
Bersama Niat dan Keyakinan.
Yang Terutama Restu Tuhan Yang Maha Esa dan Do'a Kedua Orangtua Ku.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. . . . .

 

Senin, 05 Januari 2015

Ciri – Ciri dan Gejala Penyakit Kanker Otak

ciri-gejala-penyakit-kanker-otakCiri-ciri penyakit kanker otak yang pertama adalah rasa nyeri yang dalam pada kepala. Hal ini disebabkan oleh adanya pertumbuhan sel kanker di dalam otak, yang memberikan tekanan abnormal di dalam tengkorak. Jika dibiarkan, tekanan ini dapat menyebar hingga ke syaraf sehingga dapat memicu suatu bentuk kerusakan saraf, yang kemudian akan memunculkan gejala kanker otak seperti berikut ini:

1. Sakit kepala
Sakit kepala pada penderita kanker otak bukanlah jenis sakit kepala biasa. Tanda-tandanya adalah rasa sakit kepala yang terjadi di tempat yang tidak biasa, seperti misalnya di bagian kepala belakang, atau di bagian belakang telinga. Sakit kepala ini biasanya juga akan terasa semakin sering terjadi hingga kadang menyebabkan rasa mual.

2. Gangguan penglihatan
Gangguan ini dapat terjadi akibat rasa sakit kepala yang hebat Namun di samping itu, pandangan yang berbayang, kabur, atau ganda adalah beberapa ciri kanker otak yang paling sering dialami.

3. Mati rasa
Ada beberapa anggota tubuh yang tidak dapat bebas digerakkan, seperti misalnya kaki dan tangan. Lebih jauh Anda akan sering merasa kejang tanpa adanya gangguan epilepsi, dan sulit untuk menjaga keseimbangan tubuh.

4. Perubahan perilaku
Serangan kanker otak juga dapat ditandai dengan adanya perubahan kepribadian, dan respon yang berkurang terhadap persoalan sehari-hari.
Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi angka harapan hidup pasien kanker otak, diantaranya adalah kemampuan untuk melakukan deteksi dini, salah satunya dengan mengenali ciri-ciri penyakit kanker otak, kemampuan untuk melihat dimana lokasi pasti kanker di otak, dan yang terakhir adalah kemampuan teknologi untuk melakukan upaya diagnosis dan terapi.
Selain menjalani pengobatan secara medis, tidak ada salahnya untuk melakukan pengobatan herbal dengan mengkonsumsi sarang semut dipercaya mampu mengobati kanker otak.

Menggunting dalam lipatan (Kawan/Lawan)

Banyak teman tapi itu tak menjanjikan ia sebagai jaminan kawan. Kadang teman kita itu penjilat. Di depan kita seperti domba. Di belakang kit...